Pemuda dan desa setempat memungut retribusi untuk mobil dan motor yang lewat sebesar Rp 1000 dan Rp 500. Retribusi digunakan untuk perawatan jembatan yaitu mengganti kayu penutup rangka besi setiap dua tahun sekali (info dari kompas, semoga informasi ini benar)
Para pemuda mengatur supaya mobil lewat bergantian arah. Melintasi jembatan cukup menegangkan, hampir seperti menaiki wahana di Dufan. Bunyi kriek kriek balok kayu yang beberapa tampak sudah pecah (!) cukup menegangkan. Pemandangan priangan yang sangat indah dengan sungai, sawah, pepohonan hijau bisa kita lihat dari atas jembatan.
Seharusnya jembatan yang dibuat jaman sekarang pastinya lebih kuat dan indah ya, jembatan jadul aja kokoh dan cantik gitu…
http://wisata.kompasiana.com